ANDA ALUMNI SMP N 1 SRONO...???

ANDA DIWAJIBKAN UNTUK LOGIN JIKA SUDAH TERDAFTAR SEBAGAI MEMBER.

BAGI YANG BELUM TERDAFTAR SEBAGAI MEMBER, DIHARAPKAN UNTUK SEGERA REGISTER.

JANGAN LUPA ISI ABSENSI WARGA.....

Latest topics

» bagi2 cara ngeblog seng wapikkkkkkkkk
Wed Dec 29, 2010 1:23 pm by flamrozi

» Format Absensi Warga
Wed Nov 17, 2010 1:36 pm by De Dua Ka

» ATOM Distro
Sun Oct 17, 2010 11:49 pm by flamrozi

» IDUL FITRI 2010
Fri Sep 10, 2010 11:03 am by Admin

» kumpul lebaran 2010
Mon Aug 30, 2010 1:57 pm by aam fansuri

» saran (& sedikit kritik)
Thu Aug 26, 2010 10:18 pm by Admin

» karnaval kec.srono 2010
Thu Aug 12, 2010 10:31 pm by fikman

» Mesut Ozil Siap Bergabung Dengan El-Barca
Thu Aug 12, 2010 10:05 pm by fikman

» Milan Dipersilahkan Boyong Bintang Muda Benfica
Thu Aug 12, 2010 9:11 pm by flamrozi

Navigation

Affiliates

free forum
 

User Yang Sedang Online

Total 2 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 2 Tamu

Tidak ada


User online terbanyak adalah 8 pada Thu Jul 08, 2010 4:37 pm


    Berwisata ke Goa Akbar

    Share
    avatar
    dimas meyga permana
    wes ngadek
    wes ngadek

    Posts : 65
    Points : 3135
    Join date : 06.07.10
    Age : 31
    Location : malang

    Berwisata ke Goa Akbar

    Post  dimas meyga permana on Sun Jul 18, 2010 12:48 pm


    Siang itu mentari bersinar cukup terik di wilayah Tuban. Tapi, di belakang Pasar Baru Tuban, serombongan orang terus mengalir menuju sebuah goa yang terkenal dengan sebutan seribu goa itu. Mereka adalah peziarah dari Makam Sunan Bonang. Mereka berduyun-duyun menyusuri lorong demi lorong Goa Akbar yang telah dibuka secara resmi sebagai obyek wisata pada tahun 1998.

    Hingga kini, Goa Akbar telah dikelola dengan baik oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tuban. Berbagai fasilitas untuk mengeksplorasi keunikan dan keindahan goa tersedia lengkap. Mungkin jauh dari perkiraan wisatawan tentang goa yang gelap dan berbau kotoran kelelawar. Di goa dengan lintasan sepanjang 1,2 km itu, pengunjung akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda.



    Saat menuruni pintu goa, cobalah tengok ke atas, maka anda akan mendapati suasana layaknya memasuki atrium besar. Ruang dalam goa tampak kian menarik dengan dekorasi lampu hias. Sinar lampu itu membantu menampilkan bentuk bebatuan stalagtit dan stalagmit yang mengagumkan. Sepanjang lintasan dalam goa, terdapat setidaknya tiga ruang besar semacam hall. Ruang besar ini kerap menjadi terminal pengunjung untuk santai sejenak.

    Keunikan goa dan muatan sejarah yang terkandung di dalamnya mampu menarik minat wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke tempat ini. Menurut catatan Kepala UPTD Tempat Wisata Goa Akbar dan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tuban, kunjungan wisatawan mencapai lebih dari 200 ribu orang pada tahun 2006 yang lalu. Sedangkan wisatawan asing yang datang ke sini antara lain dari Kanada, India dan Belanda.

    LEGENDA

    Sekitar 500 tahun yang lalu, Sunan Bonang sedang melakukan perjalanan. Ketika melihat goa ini, Kanjeng Sunan Bonang menjadi terpesona dan seketika berucap,"Allahu Akbar". Konon, sejak saat itulah, goa yang terletak di tengah kota Tuban itu disebut Goa Akbar. Menurut cerita versi lain, karena di sekitar goa banyak dijumpai pohon Abar maka masyarakat setempat kemudian menyebutnya Ngabar.

    Berdasar buku yang dihimpun Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tuban, kata Ngabar berasal dari bahasa Jawa yang berarti latihan. Konon, goa ini pernah menjadi tempat persembunyian untuk mengatur strategi dan latihan ilmu kanuragan prajurit Ronggolawe, yang ketika itu berencana mengadakan pemberontakan ke Kerajaan Majapahit. Pemberontakan itu disulut oleh ketidakpuasan Ronggolawe atas pelantikan Nambi menjadi Maha Patih Majapahit.

    Karena sering dijadikan sebagai tempat latihan, goa dan daerah di sekitarnya dijuluki Ngabar, yang kemudian seiring berjalannya waktu menjadi nama dusun yaitu Dusun Ngabar, Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding. Cerita mengenai asal usul ini memang berkembang secara bervariasi namun yang pasti, kata Akbar itu kini secara resmi dipergunakan Pemerintah Kabupaten Tuban sebagai slogannya. Akbar itu bermakna Aman, Kreatif, Bersih, Asri dan Rapi.

    Goa Akbar mengandung kisah keagamaan yang sangat tinggi. Diceritakan, konon Sunan Bonang mengetahui keberadaan goa ini karena diajak Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama RM Sahid. Bila kita menyimak cerita yang pada relief di dinding sebelah utara pintu masuk, digambarkan RM Sahid yang adalah putra Bupati Tuban ke-9 yang bernama Wilotikto diusir dari rumah karena memiliki tabiat kurang baik, karenanya ia dipanggil dengan nama Brandal Lokojoyo.

    Alkisah, setelah ia terusir, RM Sahid memang tinggal di Goa Akbar. Perjalanan spiritual RM Sahid alias Brandal Lokojoyo kemudian menemui jalan kebenaran, dan terakhir menjadi Sunan Kalijogo. Beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat perjalanan religius Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, di samping wali-wali yang lain.

    JEJAK WALI

    Legenda yang terkandung dalam goa itu berpadu dengan kepercayaan dan periodisasi sejarah. Misalnya, dua buah batu yang terletak di musholla sebelum pintu keluar goa. Bila diamati, kedua patung tersebut mirip dengan bentuk singa. Dipercaya bila kedua singa ini diperintahkan untuk menjaga goa ini. Di depan musholla terdapat ruang yang sangat luas yang dikenal sebagai Paseban Para Wali, atau tempat para wali menyampaikan fatwa dan ajaran agama. Paseban itu mirip ruang pertemuan. Itu ditambah dengan adanya batu-batu besar di bagian depan ruang, seperti podium bagi pembicara.

    Menurut cerita, selain tapak Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, ada Sunan Bejagung yang juga pernah bertapa di goa ini. Dalam cerita rakyat, Sunan Bejagung awalnya adalah petani biasa yang suka menanam jagung. Namun, ia memiliki kesaktian lebih. Setiap siang, ia tak nampak dalam goa. Pada saat itu ia telah berada di Mekkah untuk membantu menyalakan pelita.

    Goa ini juga memiliki sumber air alami yang diberi nama Kedung Tirta Agung. Air ini baru mengalir deras setelah tahun 1999. Di malam takbiran itu, Bupati Tuban mengadakan syukuran di dekat sumber mata air sambil membawa ayam hitam. Tiba-tiba air mengucur deras. Hingga kini, air tersebut diyakini memiliki khasiat, baik untuk kesehatan maupun untuk kekuatan.

    EKSPLORASI

    Sebenarnya masih banyak lorong yang tampaknya belum dieksplorasi di Goa Akbar. Melihat struktur tanah di kawasan ini banyak mengandung kapur, tidak heran jika goa-goa di Tuban memiliki stalagtit dan stalagmit yang berbeda. Belum dieskplorasinya lorong-lorong di Goa Akbar ini juga menyisakan kasih yang perlu dieksplorasi untuk memperoleh keunikannya.

    Lorong Hawan Samudra, misalnya, dipercaya tembus hingga Pantai Utara Tuban. Menurut cerita, lorong itulah yang digunakn untuk mengejar musuh kerajaan yang lari ke laut. Sementara lorong lainnya berujung pada Goa Ngerong di Kecamatan Rengel. Legenda ini bisa jadi memiliki nilai kebenaran, mengingat Prasasti Malenga dan Prasasti Banjaran yang bertahun 1052 ditemukan di Rengel. Karena itu Rengel dianggap sempat menjadi pusat pemerintahan saat itu.

    Lorong lainnya juga dianggap bersambungan dengan sumber air Bektiharjo. Berdasar buku 700 tahun Tuban yang disusun oleh R Soeparmo, tempat ini merupakan salah satu tempat asal usul Tuban. Cerita berujung ketika Raden Arya Dandang Miring membuka hutan bernama Papringan lalu keluar air, sehingga disebut Tuban (Metu Banyu :Bahasa Jawa)

    Secara arkeologis, Goa Akbar diperkirakan sudah berusia lebih dari 20 juta tahun. Perkiraan ini didasarkan pada temuan fosil binatang laut seperti kerang di batu-batu dan dinding goa. Temuan itu kian menguatkan posisi Goa Akbar sebagai goa fosil. Hingga kini, fosil-fosil di batu tersebut masih dapat disaksikan dengan jelas.

    Sebagai tempat wisata, pengelolaan Goa Akbar cukup serius. Mulai dari pintu masuk hingga jalur menyusuri lorong, sudah dilengkapi dengan bermacam fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Sepanjang jalan dalam goa disediakan jalur dari paving block yang dibatasi oleh pagar steinless. Selain pagar pembatas, di sana sini tertempel larangan balik arah agar pengunjung tidak sampai kebablasan tanpa memperhitungkan keselamatan. Di berbagai tempat dipasang lampu warna-warni sehingga kian membuat suasana nyaman.

    Berbagai cerita yang terkandung di dalamnya, menjadikan tempat ini sangat penting. Selain menarik sebagai tempat wisata, Goa Akbar juga memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan, baik sejarah arkeologi maupun agama. Namun, kondisi goa ini harus dijaga bersama-sama dan jangan sampai bernasib kurang bagus seperti yang banyak terjadi di tempat-tempat bersejarah lainnya.

    RUANG DAN ORNAMEN BATU DI GOA AKBAR

    Seiring beragamnya cerita yang berkembang, Goa Akbar memiliki banyak ruang dan ornamen batu dalam berbagai bentuk, yang memiliki jalinan kisah tersendiri. Kisah itu berkaitan dengan sejarah wali-wali dalam melakukan syiar agama di desa-desa hingga kawasan pantura (pantai utara).
    Pertapaan Andong Tumapak. Tempat ini dipercaya sebagai pertapaan Sunan Bejagung (Sayyid Abdullah Asyari), penyebar agama Islam di Jawa sebelum Wali Songo. Konon, Kanjeng Sunan Bejagung bertapa untuk memenuhi permintaan Bupati Tuban kala itu, untuk memohon petunjuk pada Tuhan dalam menghadapi serangan musuh.
    Sendang Tirta Merta. Berupa kolam air kehidupan. Bermakna, kehadiran goa ini diharap bisa menjadi lapangan kehidupan masyarakat Tuban.
    Lorong Hawan Samodra. Berdasar penelitian, di dalam lorong ini pernah ditemukan tanah bercampur ijuk, sehingga diduga dulu dipakai sebagai tempat penyimpanan harta karun.
    Ruangan Songgo Langit. Dari sudut ruangan ini, kita bisa melihat langit secara bebas melalui lubang angin.
    Sela Sardula, batu yang bentuknya mirip macan.
    Lorong Landak, lorong persembunyian.
    Pendopo Watu Datar, dulunya merupakan Goa Lawa atau sarang kelelawar.
    Prapen Empu Supa. Atau batu iring, dengan batu perapian untuk membuat senjata milik Empu Supa di Desa Dermawuharjo Kecamatan semanding.
    Pasepen Kori Sinandhi. Yang berarti pintu atau tempat untuk semedi, bertapa atau bersembunyi.
    Gawang Marabahaya. Bila masuk ke lorong ini sejauh lebih kurang 20 meter, maka akan menemukan sumur sedalam 14 meter yang di dalamnya terdapat sungai bawah tanah. Bila ditelusuri, sungai itu akan tembus ke Goa Ngerong, Rengel. Muaranya bisa dilihat di Pantai Boom.
    Pendopo Sela Gumelar. Dulu ruangan ini beralas bebatuan yang tersebar rapi. Pernah digunakan sebagai tempat pertemuan atau istirahat para istri wali, sambil menunggu para wali rapat di ruang lain.
    Pasunggingan Banyu Langse. Berbentuk batu, seperti aliran air. Nama ini diambil dari Pemandian Sungai di Boto Kecamatan Semanding.
    Pertapaan Sela Kumbang, pertapaan di atas tanah.
    Gampeng Watu Naga, bentuk batu-batu ruangan itu bila digabungkan akan mirip dengan ular naga.
    Sela Turangga, batu mirip kuda dan lorongnya bisa tembus hingga ke Rumah Sakit Medika Mulia.
    Muhamandhapa Sri Manganti. Ruangan seperti pendopo luas, pernah digunakan sebagai tempat pertemuan Wali Songo.
    Watu Gong, batu yang bila dipukul akan berbunyi seperti gong.
    Pasujudan Baitul Akbar. Tempat ibadah umat Islam dan tempat ini pernah digunakan Sunan Bonang untuk sholat.

      Waktu sekarang Mon Jul 23, 2018 4:50 pm